Selasa, 08 Juli 2014

My SHS's Stories Part II

                 Dengan penuh perjuangan akhirnya bisa lolos jadi anak kelas XI IPA. Bukan hal mudah masuk IPA di Stero begitu juga saat berada di dalam kelas itu. Kelas yang isinya juara-juara kelas dari kelas 10 itu terlihat sedikit menyeramkan. Asing sekali rasanya pertama kali masuk dikelas anak-anak pintar ini. Aku lebih banyak bergeng dan hanya main dengan orang yang itu-itu saja. Segan rasanya bermain dengan anak-anak yang kemampuan otaknya jauh diatas kemampuan otakku. Tidak sedikit nilai remedi yang didapatkan. Semangat belajarpun menurun kalau dibandingkan dengan sewaktu kelas 10. Entahlah mengapa padahal nilai juga semakin jeblok tetapi tetap tak punya semangat untuk memperbaikinya.
            Di kelas XI banyak sekali pengalaman baru. Masuk dalam ekskul orkestra misalnya. Suatu kebanggaan tersendiri aku bisa bermain biola dalam kelompok besar untuk melayani misa di gereja, tampil dalam acara-acara sekolah maupun acara-acara diluar sekolah. Aku menjadi lebih mengenal dunia diluar lingkungan asrama dan sekolah. Berawal dari kelompok orkestra besar aku patut berbangga karena aku terpilih untuk masuk dalam kelompok mini orkestra. Tentu saja mini orkestra ini jauh lebih padat dan jauh lebih banyak jadwal manggungnya *eaaak*.
            Di kelas XI juga dapat pengalaman berbagi dengan anak-anak tunagrahita di Pakem. Pengalaman live-in yang unforgettable! Singkat memang, cuma 3 hari tapi begitu mengesankan saat bisa hidup tanpa HP, berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang memiliki keterbatasan, mengantar mereka sekolah, menemani mereka bermain, merasakan juga kesedihan yang mereka alami membuatku belajar bahwa hidupku jauh sangat beruntung jika dibandingkan dengan mereka yang bahkan sejak kecil telah memiliki keterbatasan dan dibuang oleh orangtua mereka tapi tetap punya semangat untuk sekolah, untuk bermain, untuk tersenyum dan tertawa, dan tidak jatuh dalam keterpurukan.
            Ada juga pengalaman sewaktu Praktek Kerja Lapangan di Samigaluh. Mulai dari terjun ke kali untuk ngukur kecepatan aliran air, nyari arah angin, mandi di sungai karena air dipenginapan mati, tidur cuma beralas tikar kayak sate mau di bakar, naik turun gunung, mencakok pohon mangga, ngukur PH tanah, panen durian, menanam jahe, bertemu dengan tai kambing dalam pembuatan kompos, panen salak, panen rambutan, sampai bakar jagung bersama didepan penginapan. What an amazing unforgettable moment ever deh.
            Ulang tahun ke-16 juga bakal sulit terlupakan. Secara aku dapat kue yang besar banget dan boneka monyet warna pink dari unit baruku. Unit St. Regina. Unit paling berantakan, paling heboh, paling berisik, paling aneh, tapi jadi unit terbaikku. Unit yang dulunya bekas kamar suster itu cuma punya satu kamar mandi dalam dan tanpa balkon tapi berisi 8 orang yang salah satunya adalah ketua asrama. Aku yang terpilih menjadi ketua unit sering banget merasa gagal dan lelah menghandel unit yang super berantakan itu. Tiap hari aku dipanggil suster cuma untuk diperingatkan betapa seperti kapal pecah unitku ini. Tapi tetap saja terlalu banyak cerita terukhir diunit ini, mulai dari saat paling membahagiakan, saat paling biasa-biasa saja, saat paling menjengkelkan, sampai saat paling mengharubirupun terjadi diunit ini.
            Waktu kelas XI aku dipilih untuk jadi anggota majalah sekolah. Tidak pernah terpikirkan dan tidak pernah berharap tapi entahlah dari mana dilihatnya aku dipilih untuk itu. Juga terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk menulis artikel tentang pohon yang ditanam disekolah untuk setiap bulannya di kirimkan ke Kompas. Aku hanya mengiyakan semua tawaran itu untuk menambah pengalamanku saja.
            Oh ya, dikelas XI juga masa-masanya latihan pagelaran untuk pengambilan nilai praktek kesenian saat kelas XII. Saat itu aku terpilih untuk menjadi narator. Lagi dan lagi. Hampir di setiap drama aku selalu kebagian tugas jadi narator entahlah apa karena aku terlalu jelek untuk berakting atau terlalu bagus dalam bernarasi haha.
            Terlalu banyak pengalaman baru yang pastinya sangat susah terlupakan terjadi dimasa-masa kelas XI. Mulai merasakan betah diasrama, bangga karena tiap hari dipanggil kakak, dan disapa pagi, siang, malam. Tidak munafik kok, itu menjadi kesenangan tersendiri sebagai kakak kelas haha. Kelihatannya memang terkesan senioritas, tapi sebenarnya itu lebih mengajarkan bagaimana kita menghargai dan menghormati orang yang lebih tua dari kita.
            Entahlah, awalnya aku sedikit ragu aku bisa naik ke kelas XII. Melihat nilaiku (mapel IPA terutama) yang amat sangatlah jelek membuatku sedikit pesimis apalagi ditambah dengan begitu banyaknya kegiatan diluar yang sedikit banyak telah menyita waktu belajarku apalagi begitu besarnya kemalasan yang tertanam dalam diriku ini. Tapi pada akhirnya aku harus bersyukur karena diizinkan naik ke kelas XII dengan nilai yang lumayan walau tidak sebagus kelas X.

To be continued...

Jumat, 04 Juli 2014

My SHS's Stories Part I

                  Ahh tidak terasa sudah 3 tahun berlalu sejak aku pertama kali masuk sebagai murid SMA. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya aku bisa tahan selama 3 tahun sekolah jauh dari orangtua, masuk asrama, dan masuk di sekolah dengan isi segender semua. Ya, SMA Stella Duce 2 Yogyakarta.

            Awal aku dinyatakan lolos sebagai calon siswi baru SMA Stella Duce 2 Yogyakarta adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidupku. Aku berpikir bahwa aku akan tinggal jauh dari orangtua di sebuah kota besar di pulau Jawa, hidup bebas, bisa jalan-jalan sepuasnya tanpa izin orangtua, bisa ketemu orang-orang baru, bisa ketemu artis, bisa nonton bioskop, dalam pemikiranku adalah aku bisa bebas bebas dan bebas. Sedih juga awalnya saat berpelukan berpisah dengan mama dibandara saat aku akan terbang menuju Yogyakarta dari kota masa kecilku, Jayapura. Aku ke Jogja diantar papa.
Awal masuk asrama dalam pikiranku ‘inilah rumah baruku’. Aku lalu diantar suster menuju unit baruku. Unit pertamaku, unit St. Elisabeth. Semuanya terasa asing, kamar dengan luas sekitar 3x6 dengan 4 tempat tidur tingkat, 4 lemari besar 5 pintu, dan 1 balkon dengan gantungan handuk dibelakang. Aihh kamar yang sangat jauh dari kamar mandi. Dalam pikiranku saat itu, bagaimana jika aku kebelet pipis tengah malam haha. Malam pertama diunit baru aku berkenalan dengan 3 teman baruku sesama kelas 10. Malam itu kami bertiga mengobrol sampai larut malam sampai kami 3 kali ditegur oleh kakak kelas yang saat itu aku tidak tau dia itu sebenarnya siapa.

Hari pertama masuk sekolah sebagai calon siswi SMA Stero, masih berpakaian biru-putih ala SMP tapi dengan sepatu baru berwarna putih. Seminggu mengalami masa orientasi peserta didik baru (MOPDIK) yang penuh duka. Kami harus membuat name tag dengan lambang tarakanita yang dibuat dengan kain percis warna biru muda-biru tua-kuning dengan ukuran yang sudah ditentukan dengan teka-teki dan setiap harinya begitu diperiksa lalu disuruh buat ulang lagi oleh kakak OSIS, aku mengulang name tag itu sampai 3 kali, lalu disuruh mencari tanda tangan kakak kelas 11 dan kakak kelas 12, lalu yang paling menarik adalah mengikuti outbond. Kami harus berjuang dalam kelompok, mengutamakan kekompakan dalam menyelesaikan permainan-permainan yang disediakan, yang paling menarik adalah harus merayap melewati lumpur yang dipenuhi oleh belut. Rangkaian MOPDIK selama seminggu itu lalu ditutup dengan makrab disekolah. Sungguh seminggu yang penuh dengan duka dan pengalaman baru haha. Tapi ternyata hari-hari kekelaman boleh saja berakhir di sekolah, tapi tidak di asrama. Masih ada lagi 3 hari masa orientasi asrama (MOA). Dengan rambut yang diikat sejumlah tanggal lahir, kami harus berjuang mencari minimal 60 tandatangan kakak kelas baik kakak kelas 11 maupun kelas 12. Banyak hal-hal aneh yang disuruh oleh kakak-kakak kelas dan mau tidak mau kami harus melakukan hal itu untuk mendapatkan tanda tangan mereka, seperti menyanyi lagu dangdut sambil menari, menghitung jumlah daun di sebuah tanaman, membuat kakak kelas yang lain ketawa, berpose alay, berdoa, membuat dan membacakan puisi, dan masih banyak lagi hal-hal aneh, tapi untungnya masih ada juga kakak kelas yang dengan baik hati memberikan tandatangan secara gratis. Dan pada akhirnya, aku tidak berhasil mengumpulkan 60 tandatangan. Aihh pengen nangis rasanya, tapi untungnya tidak ada hukuman hehe.
Di kelas X lebih banyak cerita sedih. Mulai dari tidak betah tinggal di asrama, muak dengan pelajaran disekolah dan berujung minta pindah balik Jayapura tapi malu sama apa omongan orang nanti. Berusaha mati-matian belajar demi bisa masuk IPA, supaya tidak dipindahkan ke Jayapura adalah salah satu perjuanganku hidup disini. Tidur siang menjadi sebuah kelangkaan karena setiap pulang sekolah selalu saja ada kegiatan entah itu praktikum, les, maupun ekskul. Tidak punya semangat pergi kesekolah karena tidak ada penyemangat, melihat biasanya sewaktu SMP selalu semangat sekolah karena bakal ketemu si doi hehe, pas SMA mau ketemu doi siapa woy? Cewek semua. Ada sih cowok, tapi guru! Yakale aku naksir guru hmm. Harus pintar-pintar bagi waktu buat istirahat, belajar, dan main. Di SMA aku semakin kenal yang namanya belajar. Waktu SMP sih tidak belajar saja udah dapet ranking, di SMA biarpun belajar juga tetap aja remedi.
Tapi banyak juga pengalaman mengasyikkan sekaligus memalukan. Pertama kali ngerayain ulang tahun tanpa orangtua di asrama, mungkin jadi pengalaman seru juga. Apalagi diawali dengan dikerjain terlebih dahulu. Saat itu aku dicuekin sama anak-anak satu unit, aku kemudian disuruh mencari 15 barangku yang disembunyikan oleh mereka. Aku harus nyari semua barang itu selama 1 jam dari jam 8 malam sampai jam 9 malam di seluruh anak asrama. Ya ampun rasanya aku pengen nangis setelah satu jam aku mutar-mutar asrama nanya semua anak asrama dan aku cuma berhasil dapat 7 barangku. Aku lalu dimarahin habis-habisan sama kakak unitku yang kelas XII, lalu bantalku dilemparkan ke aku dan aku disuruh tidur di balkon. Entah kenapa aku merasa bahwa mereka semua serius memarahiku dan tidak ada hubungannya sama ulangtahunku. Lalu ketika aku membuka pintu balkon, ternyata dibalkon sudah ada kakak apartemenku yang memegang kue ulangtahun beserta lilin yang menyala dan satu lagi kakak unitku yang memegang kado besar dengan bungkus pink, saat itu juga mereka menyanyikanku lagu happy birthday. Aku cuma bisa nangis ngeliat sebegitu niatnya mereka memberikan surprise untukku. Baru pertama kali aku diberi kue ulangtahun dengan cara sesadis ini. Tapi sangat unforgettable. Kue ulangtahun rasa coklat dengan kado boneka monyet berkepala besar yang kunamai odothe menjadi hadiah ulangtahunku yang ke 15 dari unit pertamaku diasrama ini.
Adalagi satu pengalaman memalukan. Misalnya, pertama kali belajar nyontek (loh). Jadi waktu itu ulangan biologi, namanya biologi ya susah banget kan ya nama-nama latinnya itu. Akhirnya sekelas kompakan nyontek haha alhasil nilai biologi kami yang biasanya jelek dan hancur banget tiba-tiba jadi bagus semua. Bukannya senang, guru biologi kami (guru paling killer) malah curiga dan buat ulangan ulang sewaktu pulang sekolah. Akhirnya kami ketahuan nyontek sekelas dan kelas kami dijuluki kelas tukang nyontek dan pada akhir semester 2 menjadi kelas dengan rata-rata nilai terendah diantara semua kelas X. Aduhh sedih banget sih haha.
Akhirnya dengan penuh air mata perjuangan dikelas X, aku berhasil naik ke kelas 11 dengan prestasi lumayan baik dan menduduki rangking 4. Yihaaa...

to be continued...

Mandarin's Songs


                Sudah 1 bulan ini aku kursus bahasa mandarin di Lembaga Bahasa Sanata Dharma. Bahasa yang sangat ingin ku pelajari dari dulu tapi belum pernah kesampaian. Berharap di SMAku mendapatkan pelajaran bahasa mandarin eh ternyata dapatnya bahasa Jerman. Ketika aku naik kelas 11 ternyata  bahasa mandarin dimasukkan menjadi salah satu pelajaran tapi hanya program bahasa dan aku masuk IPA. Ahh sedih banget, awalnya sempat mohon-mohon ke kepala sekolah tapi tetap saja bahasa mandarin belum bisa dijadikan pelajaran bahasa asing untuk semua program jurusan. Sempat nanya ke teman-teman yang anak bahasa, katanya sih bahasa mandarin itu sangat susah apalagi harus menghapal sekian banyak hanzinya (karakter bahasa mandarin). Setelah lulus, papa malah menawarkanku untuk ikut kursus bahasa mandarin. Menyenangkan sekali. Gurunya sangat baik dan perhatian, teman-teman sesama kursus juga sangat friendly.
            Hari ini aku listening dengan sebuah lagu mandarin. Aku baru pertama kali dengar lagu ini tapi aku tiba-tiba jadi suka dengan lagunya. Judulnya Huáng Pǐn Yuán. Begini lirik lagunya dalam pīnyīn:

Yǒu yī gè měi lì de xiǎonǚhái
tā de míng zi jiào zuò xiǎwēi
tā yǒu shuang wēnróu de yǎn jīng
tā qiāoqiāo tōuzǒu wǒ de xīn

Xiǎowēi ā nǐ kě zhī dào wǒ duō ài nǐ
wǒ yào dài nǐ fēi dào tiānshàng qù
kàn na xīngxīng duō me měi lì
zhāi xià yì kē qīn shǒu sò gěi nǐ

            Jadi lagu tersebut menceritakan seorang cowok ketemu cewek yang cantik banget namanya xiǎwēi. Cewek itu mempunyai sepasang mata yang lembut, dan secara diam-diam cewek ini telah mencuri hati si cowok hihihi. Terus si cowoknya ini pengen banget si cewek tau kalo dia tuh cinta banget sama cewek itu, dia ingin membawa si cewek pergi ke langit melihat bintang-bintang yang indah, memetik satu bintang dan memberikannya pada cewek itu.
            Kedengarannya memang so sweet banget ya, begitulah yang orang rasakan kalau sedang jatuh cinta. Rasanya apapun akan dilakukan untuk orang yang dia cintai itu, termasuk hal-hal yang mustahil seperti terbang ke langit, memetik bintang dan memberikan bintang itu pada si cewek layaknya lagu diatas. Yakalee bintang bisa dipetik emang buah? Hehe. Tapi mau gimana lagi namanya orang lagi jatuh cinta pasti buta, pasti segala-gala yang mustahil menjadi dapat terwujud.
            Suka banget sama lagu ini. Oh iya selain lagu ini, aku juga suka sama satu lagi lagu mandarin yang pasti sudah sangat familiar. Lagu ini aku dengar pertama kali saat les juga, Riris laoshi (sebutan untuk guru dalam bahasa mandarin) pernah memutar lagu ini dikelas saat sebelum dan sesudah pelajaran. Sangat bagus dan mempunyai makna yang menarik juga, judulnya Tong Hua. Begini liriknya dalam pīnyīn:

Wang le you duo jiu
zai me ting dao ni
dui wo shuo ni zui ai de gu shi
wo xiang le hen jiu
wo kai shi huang le
shi bu shi wo you zuo cuo le shen me

Ni ku zhao dui wo shuo
tong hua li dou shi pian ren de
wo bu ke neng shi ni de wang zi
ye xu ni bu hui dong
cong ni shuo ai wo yi hou
wo de tian kong xingxing duo liang le

Wo yuan bian cheng tong hua li
ni ai de na ge tian shi
zhang kai shuang shou
bian cheng chi bang shou hu ni
ni yao xiang xin
xiang xin wo men hui xiang tong hua gu shi li
xin fu he kuai le shi jie ju

Yi qi xie wo men de jie ju

            Sedikit bertolak belakang dengan lagu pertama lagu Tong Hua ini maknanya sedikit sedih namun tetap romantis. Tong hua sendiri artinya dongeng. Jadi ceritanya gini, seorang cowok mempunyai cewek yang selalu menceritakan kisah mereka seperti sebuah dongeng. Seperti kita tau bahwa hampir semua dongeng selalu happy ending. Tapi kemudian si cowok melakukan kesalahan yang membuat si cewek menganggap bahwa dongeng itu hanyalah kebohongan dan si cowok tidak bisa menjadi seperti pangeran yang si cewek idam-idamkan dalam sebuah dongeng. Padahal sebenarnya si cowok merasa sangat bahagia ketika si cewek mengatakan bahwa si cewek sangat mencintai si cowok. Si cowok mengatakan bahwa ia ingin menjadi malaikat yang disukai oleh si cewek, dia ingin tangannya berubah menjadi sayap agar dapat  menjaga dan melindungi si cewek. Si cowok ingin meyakinkan si cewek bahwa mereka akan seperti dongeng itu, bahagia pada akhirnya.
            Ahhh betapa bahagianya menjadi cewek itu. Ingin rasanya dinyanyikan lagu tong hua oleh cowok haha oke lupakan. Intinya lagu ini adalah the best one. Aku suka mulai dari lirik, makna liriknya, musik, maupun suara penyanyinya semuanya serba terasa sempurna. Suka banget sama lagu ini. Bagi yang suka lagu mandarin mungkin dua lagu kesukaanku ini bisa jadi recomended.

Jumat, 27 Juni 2014

A Mail from My Mom

Saat itu aku baru saja pindah dari Jayapura untuk melanjutkan SMA di Yogyakarta, di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta. Tiba-tiba ada sesuatu yang membuatku menangis di masa-masa awal penyesuaianku tinggal dilingkungan baru, aku mendapatkan sebuah e-mail dari mama.


Dear Gio,
Gio, mama sedikit sulit untuk memulai, tapi mama ingin mengatakan sesuatu untukmu.
Di asrama sudah diatur agar siswa dapat berhasil dalam studi dan pendewasaan diri antara lain dengan adanya peraturan-peraturan. Agar siswa dapat mendisiplinkan diri, semua ada waktunya, jadi jangan dianggap sebagai suatu penyiksaan/beban.
Mungkin baiknya setiap ada tugas dari sekolah hari itu juga harus diselesaikan meskipun kumpulnya 1 minggu lagi, nanti 2 hari sebelum kumpul malamnya di edit atau di periksa lagi, jangan sekali-kali menunda pekerjaan. Kalau sekali menunda pekerjaan/tugas maka gio akan kelabakan untuk seturusnya karena setiap hari pasti ada tugas baru yang diberikan guru.
Di asrama waktunya sangat banyak kalau mau digunakan dengan baik, karena tidak ada waktu untuk nonton TV, tidak ada waktu untuk tidur-tiduran, tidak ada waktu yang ber-sms-ria. Kalau dibandingkan dengan rumah, berapa banyak waktu yang sudah terbuang, untuk nonton, tidur-tiduran, ber-SMS, dll.
Namun awas !!! ada racun di asrama yaitu ngobrol karena banyak teman, bahaya ngobrol adalah kalau terlalu keasyikan akibatnya pertama waktu untuk istirahat berkurang atau malah tidak bisa istirahat sama sekali, akibat dari kurang tidur adalah tidak konsentrasi di kelas bawaannya ngantuk, sakit kepala, dan emosional.
Akibat kedua dari ngobrol, tanpa sadar-sadar sudah bergosip, gosip sangat berbahaya karena dapat menyakiti teman yang lain yang belum tentu kebenarannya atau kalau memang benar kita tidak punya hak untuk menghakimi orang lain.
Dalam hidup bersama dengan orang lain sebaiknya kita menjaga agar tidak saling menyakiti untuk hal-hal yang sepeleh, misalnya jangan mempermasalahkan hal-hal kecil, jangan cepat tersinggung hanya karena satu-dua kata yang keras dari teman atau kakak-kakak, kalaupun ada teguran-teguran itu berarti orang lain sangat peduli terhadap kita, hanya mungkin cara penyampaian yang agak keras menurut kita, tidak apa… karena semua orang berbeda latarbelakang dan budaya. Mengalah juga tidak berarti kalah to, jadi mengalahlah untuk kepentingan bersama, dan untuk kepentingan diri sendiri.
Mama tahu mungkin, sangat sulit untuk dilakukan tetapi mama yakin bahwa gio mampu melaksanakan semua ini, karena gio anak yang baik selama hidup bersama mama, tidak menyusahkan mama, mandiri, dewasa dalam bertindak dan mama sangat yakin bahwa gio dapat bertahan sampai selesai. Dan pada saat selesai gio akan menjadi perempuan yang sangat hebat dan luar biasa, karena dalam usia yang sangat belia gio sudah melewati hari-hari sulit tanpa orang tua.
Satu hal yang terpenting di antara hal-hal penting lainnya untuk mama, adalah menjaga kemurnian dirimu, “karena dirimu adalah Bait Allah Kudus”, gio tahu maksud mama.
Untuk sementara itu dulu, mama harap gi mau baca dan simak baik-baik pesan/nasehat-nasehat mama ini, mama sangat mencintaimu, secara fisik mama tidak bisa melihatmu tiap hari, tapi gio selalu ada di dalam hati mama.

Rabu, 18 Juni 2014

Jurusan saat kuliah?


Kuliah. Satu kata yang pastinya dinanti-nantikan semua siswa/i yang baru lulus dari jenjang menengah atas. Tapi apakah semudah itu menentukan program jurusan yang akan diambil? Terkadang keinginan personal dan keinginan orangtua sangatlah bertentangan. Begitulah yang terjadi padaku.
            Sedari kecil, cita-citaku sudah diarahkan oleh kedua orangtuaku. Dokter. Ya, cita-cita klasik yang selalu diucapkan oleh para anak kecil saat ditanyakan mau jadi apa kalau sudah besar. Cita-cita itu juga pulalah yang dianut dan diamini oleh kedua orangtuaku terhadapku dan kakakku. Awalnya aku dan kakakku sama-sama mempunyai niat yang besar untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan dokter. Tapi pada akhirnya, akupun tak tahu mengapa keinginan dalam diri kakakku itu tiba-tiba musnah begitu saja, dia beralih memilih program studi teknik arsitektur. Tapi aku mengakui bakat menggambar yang ada pada diri kakakku. Awalnya keinginan tersebut ditentang, tapi pada akhirnya orangtuaku terpaksa mengalah dengan keinginan tegas dari kakakku untuk tidak memilih program kedokteran.
            Bagaimana denganku? Akulah harapan satu-satunya. Orangtuaku telah banyak menabung dan menuntunku untuk memilih program studi pendidikan dokter. Saat pemilihan jurusan di SMA aku dipaksa untuk memilih jurusan IPA, padahal ada separuh hatiku yang memilih jurusan Bahasa dan IPS. Aku mengikuti alur yang orangtuaku buat. Aku harus berusaha sangat keras di kelas IPA, nilai-nilai IPAku tidak pernah sebaik nilai bahasaku. Ya, sejak kecil aku sangat suka hal yang berbau ‘sastra’. Aku suka menulis, ada banyak cerpen dan puisi yang aku buat hanya untuk kepuasan pribadiku. Aku tidak pernah berniat untuk mengikuti lomba-lomba yang berhubungan dengan itu. Saat SMApun aku tidak memilih ekstrakulikuler yang berhubungan dengan tulis-menulis. Biarlah itu menjadi hobi terselubungku. Tapi, entahlah mengapa aku diminta oleh guruku untuk menjadi anggota tim majalah sekolah dan dipilih menjadi perwakilan sekolah untuk menulis artikel tentang lingkungan sekolah yang tiap bulannya akan dikirim ke Kompas. Aku menyanggupinya hanya untuk menambah pengalamanku. Tapi teman-temanku mengakui keahlianku dibidang tulis-menulis dan menyuruhku untuk memilih jurusan diperkuliahan yang berhubungan dengan itu.
            Aku diminta oleh orangtuaku untuk mengikuti tes masuk kedokteran disuatu universitas swasta. Aku hanya menurut, tapi sesungguhnya aku tidak punya keinginan untuk berada disitu. Kakakku setia mengantarku untuk mengikuti tes-tes tersebut. Tapi saat aku perjalanan pulang, aku memarahi kakakku dan mengatakan bahwa karena dia tidak jadi masuk kedokteran maka aku yang dipaksa masuk kedokteran. Tapi kemudian dia berkata dengan santai, “masuk kedokteran itu masalah panggilan”. Aku kemudian berpikir dan terus berdoa tentang jurusan apa yang sebaiknya aku ambil. Konsekuensi masuk kedokteran adalah aku harus menghabiskan umurku selama bertahun-tahun dibangku kuliah dan seumur hidup untuk belajar. Ya memang semua jurusan pasti memiliki konsekuensi masing-masing, tapi tentu saja kedokteran berkaitan dengan nyawa manusia dan hal itu memiliki konsekuensi yang lebih besar daripada jurusan lainnya.
            Aku memang sempat berpikir untuk mengikuti keinginan orang tuaku dan memilih kedokteran, mengingat belum ada seorangpun dalam keluargaku yang bergelar dokter, pastilah sangat membanggakan jika gelar itu pertama kali tertera padaku. Tapi kemudian hatiku bergejolak, haruskah aku memilih jurusan cuma untuk kepuasan pribadiku dan untuk gengsi semata, sementara sama sekali tidak ada jiwaku kesitu?
            Setelah berkali-kali berpikir dan berdoa. Aku memutuskan untuk memilih jurusan komunikasi. Tapi apakah semudah itu? Tentu saja tidak. Lagi dan lagi terhalang oleh restu orangtua. Entahlah mereka selalu menganggap bahwa itu adalah jurusan yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka prospek kerjanya. “Mau jadi apa kamu setelah lulus dari jurusan komunikasi?” itulah kata-kata yang selalu diucapkan orangtuaku. Kolot. Ya, bukannya tidak hormat pada orangtuaku atau mau dianggap durhaka. Aku jelas menentang pendapat mereka yang terkadang terlalu “merendahkan” jurusan lain. Apakah mereka pikir bahwa kedokteran adalah jurusan dengan masa depan yang sudah sangat jelas? Ya memang aku mengakui itu, jelas bahwa setelah lulus kedokteran akan menjadi dokter. Tapi apakah mereka tidak melihat realita diluar sana bahwa ada banyak sekali lulusan dari kedokteran yang sekarang menjadi pengangguran? Bukannya merendahkan salah satu jurusan tapi itulah fakta yang terjadi. Bukan jurusannya, tapi kualitas personal yang dimiliki oleh setiap pribadi itulah yang dilihat oleh dunia kerja. Mereka mengatakan bahwa mereka telah berpengalaman dan mereka tau akan hal itu. Mereka mengatakan bahwa jurusan di kuliah itu tidak harus sesuai minat. Carilah yang berpeluang besar untuk mendapatkan pekerjaan. Memang benar tapi apakah benar ‘tidak harus sesuai minat’? Seseorang pernah mengatakan padaku seperti ini, “kamu bisa saja masuk jurusan yang sesuai keinginan orangtuamu walaupun kamu tidak berminat disitu, kamu bisa saja lulus dari jurusan itu dengan nilai yang sangat baik, karena itu hanya soal belajar dan menghafal. Belajar adalah hal yang gampang untuk dilakukan. Tapi apakah kamu akan berkembang didalamnya? Kamu mau hanya stuck di tempat dan tidak berkembang? Menurut saya, cobalah sekali ini untuk tidak mendengar kata orangtuamu.” Kata-kata inilah yang semakin memotivasiku untuk tetap bertahan pada pilihanku.
            Sejatinya semua jurusan adalah baik tergantung bagaimana kita berkembang didalamnya. Lagipula yang menjalani kita, bukan mereka. Tuhan sendiri telah menentukan masa depan kita asal kita berdoa dan berusaha pasti ada kesuksesan. Cobalah untuk yakin pada kemampuan dan lihatlah realita diluar. Justru larangan dan kesan merendahkan dari orangtua membuat aku semakin yakin dan termotivasi bahwa aku bisa dan pasti berhasil setelah keluar dari jurusan yang kata mereka “no class” itu.